Pendidikan di negeri ini masih jadi barang mahal. Padahal, pendidikan
diyakini merupakan pintu untuk lepas dari himpitan kemiskinan.
Sementera akses pendidikan di negeri ini masih belum merata.
Menurut
The United Nations Children's Emergency Fund
(UNICEF), tahun lalu, ada 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati
pendidikan lanjutan. Kalau dirinci, jutaan anak itu berhenti sekolah
saat usai sekolah dasar (SD)sebanyak 600 ribu dan 1,9 juta anak berhenti
seusai menempuh sekolah menengah pertama (SMP).
Bahkan, data
Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD),
Education at Glance
2015 menyebutkan bahwa Indonesia menduduki posisi kedua dengan
persentase 60 persen kelompok usia dewasa muda (25-34 tahun) tidak
menyelesaikan pendidikan menengahnya.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa sejumlah besar anak bangsa yang
ingin lepas dari jarring kebodohan, terhambat beragam masalah. Biaya
pendidikan adalah salah satunya.
Ketiadaan biaya itu pula yang dihadapi Agung Baskoro. Ia merasakan
betul pahit getir menempuh pendidikan. Menempuh jarak jauh untuk tiba di
sekolah. Itupun sekolah dengan fasilitas yang bisa dibilang “asal ada”.
Sedari kecil, ia merasakan betul sulitnya mengakses pendidikan
bermutu jika tak memiliki biaya. Ia yang berasal dari daerah, juga
menemukan kenyataan bahwa fasilitas pendidikan, tenaga pendidik, masih
sangat timpang dengan yang ada di kota-kota besar.
Menurut Agung, anak-anak, terutama yang tinggal di pedesaan, masih
sulit mendapat akses terhadap pendidikan yang bermutu. Kurangnya biaya,
jarak sekolah yang jauh, mutu tenaga pendidik dan standar pendidikan
yang jauh tertinggal dengan di kota jelas merupakan hambatan yang
serius.
"Hal itu juga menimpa saya, saya mengalami suka duka sulitnya bersekolah,” kenang Agung.
Namun, ia tak patah semangat. Kegigihannya berbuah manis ketika
diterima sebagai salah penerima beasiswa Tanoto Foundation selama kurun
waktu 2006 - 2009 untuk mendukung kuliah di jurusan Politik dan
Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah
Mada.
Agung yang kini berkarir sebagai
Political Analyst di Pusat
Kajian Politik Poltracking mengaku mendapat inspirasi untuk terus meraih
mimpi, gigih berusaha, dan semangat pantang menyerah dari pendiri
Tanoto Foundation yaitu Sukanto Tanoto.
"Bapak Sukanto dan Ibu Tinah rela berkorban dengan putus sekolah demi
membantu keluarga, membantu adik-adiknya bersekolah. Tetapi tidak
menyerah untuk selalu belajar melalui berbagai kesempatan," tegas Agung,
yang meraih
The Next Leader (
The Young Candidate) 2009 versi Metro TV.
Kegigihan Sukanto terus bergerak maju, belajar sendiri, untuk
kemudian terus merintis bisnisnya telah menginspirasi dirinya dan ribuan
penerima beasiswa lain untuk terus berkomitmen mencerdaskan kehidupan
bangsa dengan kontribusi nyata.
"Pak Sukanto memulai visi mencerdaskan kehidupan bangsa berawal dari
sekolah sederhana di Besitang, Sumatera Utara, pada tahun 1981. Beliau
mewadahi visi dan idealismenya untuk mencerdaskan bangsa," ucap Agung.
Agung menuturkan, ketika berkesempatan bertemu dengan Sukanto, ia
merasakan betul bahwa visi yang dimiliki Sukanto sangat mendasar yakni
bercita-cita untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia, melalui jalur
pendidikan.
"Saya bertemu dengan beliau di acara
Tanoto Scholars Gathering.
Beliau ingin menuntaskan mimpinya, yakni mengentaskan kemiskinan
melalui pendidikan dan pemberdayaan masyarakat sehingga kualitas hidup
bisa ditingkatkan," ujar Agung, yang kini rajin memberikan
analisa-analisa kondisi politik nasional di berbagai media.
Berkat Tanoto Foundation, Agung telah meraih mimpi mimpi terutama
berhasil menyelesaikan pendidikan di bidang Ilmu Politik dan
Pemerintahan di Universitas Gajah Mada hingga memiliki kesempatan lebih
luas mengembangan
network.
Ia berpesan, untuk selalu tak patah arang di tengah kesulitan apapun sebagaimana ditunjukkan oleh Sukanto Tanoto.
"Saya, hanya salah satu dari sekian anak bangsa, yang hidupnya telah
diubah menjadi lebih baik oleh Tanoto Foundation, untuk itu saya akan
selalu berterimakasih," ucap Agung.